Postingan

Kualitas Semakin Meningkat

Gambar
BULAN Ramadan yang penuh berkah telah berlalu. Kita memasuki bulan Syawal yang menurut bahasa berarti “peningkatan”. Maksudnya, amal-amal saleh baik yang berupa ibadah mahdah maupun ghair mahdah meningkat. Dengan kata lain, bulan ini adalah bulan meningkatkan kualitas diri kita setelah sebulan penuh sebelumnya digembleng dengan puasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Oleh karena itu, pada bulan Syawal kita disunahkan untuk berpuasa enam hari, sebagai wujud kontinuitas kita dalam beramal salah tanpa terputus. Meskipun kita telah berpuasa sebulan penuh, tetapi setelah itu tidak berarti ibadah puasa kita terputus. Kita masih dianjurkan untuk berpuasa Syawal yang pahalanya sangat besar. Nabi bersabda, “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim) Termasuk ibadah yang seyogianya ditingkatkan setelah Ramadan adalah ibadah malam. Di bulan Ramadan, kit...

Doa di Tengah Wabah

Gambar
PADA suatu hari, salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Rasulullah menjawab, “Perbanyaklah berdoa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR ath-Thabrani) Tidak sedikit orang yang meremehkan doa. Mereka menganggap, segala masalah bisa diselesaikan dengan usaha sendiri, tidak perlu doa. Doa dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak ada gunanya, sekadar ilusi, berharap pada sesuatu yang tidak ada wujudnya. Berbeda dengan usaha yang jelas ukuran dan targetnya. Ada masalah, dicarikan solusinya, dan masalah dapat dipecahkan, atau target bisa didapatkan. Pendek kata, mereka merasa tidak penting berdoa, cukup dengan usaha. Meremehkan apalagi mengabaikan doa bukanlah sikap seorang mukmin sejati yang meyakini adanya Allah yang mengatur segala sisi kehidupan manusia dan alam semesta. Seorang mukmin akan selalu menyertakan Allah dalam setiap usaha yang dilakukan. Segala persoal...

Doa yang Lembut

Gambar
ALLAH Mahadekat, bahkan lebih dekat dibanding urat leher kita. Dia melihat semua aktivitas kita, baik yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dia juga mendengar segala ucapan, doa dan permohonan kita yang jelas dari mulut, bahkan bila itu hanya berupa lintasan di dalam hati yang tak terucap. Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf [50]: 16) Dikisahkan, Nabi pernah menegur orang yang berdoa dengan suara keras, “Wahai manusia, tenangkan diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Tuhan yang bisu atau tidak ada. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru Maha Mendengar dan Mahadekat.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allah sendiri menegaskan, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A’raf [7]: 55) Nabi Zakariya disebutkan juga...