Provokasi Merusak Relasi
Islam sangat menekankan pentingnya menciptakan relasi sosial yang harmonis di antara manusia. Pada saat yang sama menekan kuat-kuat upaya-upaya apa pun yang merusak hubungan tersebut. Salah satu upaya yang merusak itu adalah melakukan provokasi terhadap satu orang atau kelompok dengan tujuan menumbuhkan kecurigaan, memunculkan konflik, hingga akhirnya merusak hubungan sosial yang telah terjalin.
Pada hadis di atas, Rasulullah menyebut provokasi itu sebagai al-‘adhu. Kata ini sinonim dengan an-namimah, yakni mengadu domba manusia untuk tujuan mengacaukan atau merusak hubungan atau situasi kondusif di tengah-tengah manusia. Provokasi adalah upaya-upaya untuk membangkitkan kemarahan atau tindakan menghasut yang tujuannya adalah memperuncing konflik sosial hingga berujung pada konflik horizontal.
Provokasi sangat berbahaya akibatnya, karena merusak hubungan sosial tadi. Karena itu, provokasi merupakan tindakan yang sangat dilarang dalam Islam. Selain itu, dalam provokasi setidaknya terkandung dua unsur dosa, yaitu berbohong dan niat buruk atau jahat.
Mengenai kebohongan, Rasulullah sangat mengecamnya, “Sesungguhnya kebohongan itu mengantarkan pada dosa, dan dosa itu mengantarkan kepada neraka.” (HR al-Bukhari). Dalam provokasi, seseorang menyampaikan suatu ucapan atau pernyataan yang sesungguhnya tidak benar, sehingga orang lain yang mendengarnya menerima informasi yang tidak valid.
Adapun tentang niat buruk atau jahat, yakni merusak hubungan sosial, Allah telah mengingatkan, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS al-A’raf [7]: 56). Kerusakan yang dimaksud di sini bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga kerusakan sosial, terkait dengan hubungan horizontal di antara sesama manusia.
Larangan provokasi sekaligus menjadi perintah untuk selalu bersikap jujur, berkata dan bertindak benar dan baik, serta bertujuan untuk memperbaiki atau menciptakan kemaslahatan dan kebaikan bersama, bukan sebaliknya. Kerusakan dan kehancuran suatu masyarakat sering kali diawali oleh kebohongan dan niat buruk atau jahat yang diembuskan oleh segelintir atau kelompok orang melalui provokasi, yang sama juga dengan tindakan mengadu-domba (namimah).
Rasulullah sampai menegaskan bahwa orang yang melakukan provokasi atau adu-domba tidak akan masuk surga, “Tidak akan masuk surga orang-orang yang melakukan namimah (adu-domba atau provokasi).” (HR al-Bukhari). Wallahu a’lam.
*Republika, Kamis 20 Februari
2025

Komentar
Posting Komentar