Postingan

Menampilkan postingan dengan label politik

Parpol Baru dan Ekspektasi Publik

Gambar
PEMILU 2019 akan diwarnai beberapa partai-partai politik (parpol) baru, seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Perindo, Partai Berkarya, Partai Garuda, dan Partai Bulan Bintang (PBB). Diprediksi, persaingan akan berlangsung ketat. Sebagian karena kekecewaan terhadap partai-partai lama, dan mengalihkan dukungan ke partai-partai baru dengan harapan mereka lebih baik dari partai-partai lama. Sebagian ada yang kecewa dengan partai lama, lalu beralih ke partai lama lainnya. Baju baru Munculnya partai-partai baru di alam demokrasi seperti di negeri ini bukan hal mengejutkan. Ada begitu banyak sebab partai-partai baru muncul. Bisa jadi karena pembuat partai baru kecewa dengan partai lama, baik itu kecewa karena tidak mendapat tempat atau kalah dalam pemilihan ketua partai maupun kecewa karena merasa partai lama sudah tidak konsisten dengan garis ideologi perjuangan partai. Partai lama sudah hanyut dalam politik pragmatis, semata-mata mengejar kekuasaan, sehingga mengaba...

Menjadi Pemilih yang Rasional

Gambar
KOMISI Pemilihan Umum (KPU) RI sudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada Serentak 2018 dilakukan pada 27 Juni 2018. Tahapan Pilkada itu sudah dimulai sejak Agustus lalu. Rencananya, ada 171 daerah yang mengikuti Pilkada 2018. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada di 2018. Beberapa provinsi di antaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam pagelaran atau hajatan demokrasi ini, rakyat diharapkan memilih calon secara rasional, sehingga yang dilihat adalah gagasan, bukan atribut atau citra dari calon yang kadang sudah di- setting oleh tim pemenangan. Bicara soal rasionalitas, Alasdair Maclntyre, misalnya, dalam Whose Justice? Which Rationality (1996) mengatakan, tidak hanya ada satu rasionalitas atau satu keadilan, tetapi rasionalitas dan keadilan dalam pengertiannya yang plural. Bertindak rasional menurut sekelompok orang adalah bertindak berdasarkan kalkulasi biaya dan keuntungan yang diperol...

Pemimpin Antikorupsi

Gambar
DI antara tindak kejahatan paling besar dan berbahaya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah korupsi. Dampak dari tindak kejahatan ini sangat luar biasa. Negara menjadi bangkrut dan semakin lama semakin rapuh, dan bisa-bisa di ujung tanduk kehancuran. Allah SWT sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita semua, bahkan hingga saat ini, untuk tidak berbuat curang, termasuk di dalamnya praktik-praktik korupsi, dalam mengelola harta negara, “Siapa yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang dengan yang harta yang dicuranginya. Kemudian, tiap-tiap diri akan dibalas penuh sesuai dengan perbuatannya.” (QS Ali ‘Imran [3]: 161) Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah ...