Selalu Merasa Kurang
MANUSIA sering kali merasa
kurang dengan harta atau apa pun yang telah dimiliki. Inginnya memiliki lebih
dari yang sudah ada. Punya satu ingin punya dua. Punya dua ingin punya tiga.
Begitu seterusnya. Saking ambisiusnya mendapatkan lebih dari yang telah ada,
sampai lupa diri dan lupa daratan, bahkan lupa Allah. Terlalu sibuk mencari,
mengejar dan menginginkan lebih dari yang dimiliki, bahkan untuk sesuatu yang
bukan kebutuhan, hingga lupa bersyukur kepada Allah dan berbagi dengan sesama.
Nabi menggambarkan manusia
seperti itu dalam sabdanya, “Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu
ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga.
Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha
Menerima tobat siapa saja yang mau bertobat.” (HR al-Bukhari)
Orang yang selalu merasa kurang sehingga terus
berambisi menumpuk kekayaan kerap kali melupakan syukur ketika telah
mendapatkan yang diinginkan, karena sibuk mencari tambahan lebih banyak lagi.
Dan, ketika ia tidak berhasil mendapatkannya, ia akan kecewa berlebihan, hingga
mengalami tekanan jiwa, depresi dan stres. Orang seperti ini, baik mendapatkan
apa yang diinginkan maupun tidak, tetap melupakan Allah dan sesama di
sekitarnya, terutama yang membutuhkan.
Padahal, seperti dikatakan Rasulullah,
salah satu cara untuk ingat Allah dan sesamanya dalam masalah harta duniawi
adalah dengan melihat orang yang berada di bawahnya. Beliau bersabda, “Lihatlah
orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta) dan jangan melihat orang
yang berada di atasmu, karena hal itu lebih bisa membuatmu tidak menganggap
rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR al-Bukhari-Muslim)
Dalam hadis ini, dengan ungkapan
yang lugas dan tegas, Rasulullah mengimbau manusia untuk tidak bersikap seperti
itu. Imbauan yang sangat sederhana, tetapi sangat efektif menjadi resep bagi
orang-orang yang selalu merasa kurang dengan apa yang diterimanya dari Allah.
Dengan imbauan ini, akan timbul kesadaran bahwa ternyata dirinya masih lebih
baik yang kemudian akan melahirkan rasa syukur kepada Allah dan tidak akan
terlalu berambisi memburu harta, apalagi sampai menghalalkan segala cara.
Ketika manusia menyadari bahwa dirinya
masih lebih baik daripada orang lain dalam hal ini, ia akan menjadi orang yang
bersyukur dan merasa cukup, lalu lebih memfokuskan diri untuk berbagi terhadap
sesama. Syukur seperti inilah faktor utama Allah menambahkan rezeki-Nya serta
memberkahinya. Allah berfirman, “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan
nikmat-Ku untuk kalian. Namun, jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)
Allah adalah al-Ghani
(Mahakaya). Allah selalu memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya yang
bersyukur dan selalu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Hamba yang tidak
pernah merasa kurang, karena yakin Allah Mahakaya. Ibnu
Athaillah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam mengingatkan, “Kesungguhanmu
mengejar apa yang sudah dijamin untukmu oleh Allah, dan kelalaianmu
melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya basyirah
(mata batin).”
Nabi sendiri
sering berdoa, “Ya Allah berikan aku sikap qana’ah (merasa cukup) terhadap
apa yang Engkau rezekikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah
segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim). Dalam
hadis lain, beliau berdoa, “Ya Allah jadikan rezeki keluarga Muhammad
hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi). Wallahu
a’lam.
*Nur Faridah
Penulis dan pedagang di Jajan Buku
Republika, Rabu 20 Maret
2019

Komentar
Posting Komentar