Postingan

Menampilkan postingan dengan label doa

Doa untuk Orang Tua

Gambar
AMAL saleh seseorang bisa jadi terputus ketika dia telah meninggal dunia. Namun, dia masih dapat manfaat dari beberapa amal yang dia telah lakukan sewaktu masih hidup, termasuk doa anak-anaknya yang saleh. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Apabila manusia telah meninggal maka putuslah semua amal perbuatannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakannya.” (HR Muslim)  Hal ini menjadi pengingat dan petunjuk bagi anak-anak yang orang tuanya sudah meninggal dunia untuk terus mendoakan mereka. Lebih spesifik lagi, doa dalam bentuk istighfar. Mendoakan dalam bentuk ini juga masuk dalam amal birrul walidain atau berbakti terhadap orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi.  Diriwayatkan dari Malik bin Rabi’ah as-Sa’idi, dia menuturkan, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk...

Mendoakan Kebaikan

Gambar
MANUSIA pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah dan tak sempurna di mata Allah. Allah berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.’” (QS an-Nisa’ [4]: 28). Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Thariq al-Hijratain menafsirkan, kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu pengetahuan, dan lemah kesabaran.  Hanya Allah Yang Mahakuat dan Mahasempurna. Karena itu, manusia perlu berdoa kepada-Nya agar dibantu atau ditolong menghadapi berbagai kesulitan hidup yang tak kuasa dia hadapi. Juga mendoakan orang lain dengan kebaikan. Nabi bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘ Dan bagimu juga kebaikan yang sama .’ ” (HR Muslim) Doa itu sendiri oleh Rasulullah disebut sebagai mukh al-‘ibadah (otaknya ibadah), “Doa itu adalah otaknya ibadah.” (HR at-Tirmidzi). Maksudnya, inti dari ibadah, karena o...

Doa di Tengah Wabah

Gambar
PADA suatu hari, salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Rasulullah menjawab, “Perbanyaklah berdoa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR ath-Thabrani) Tidak sedikit orang yang meremehkan doa. Mereka menganggap, segala masalah bisa diselesaikan dengan usaha sendiri, tidak perlu doa. Doa dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak ada gunanya, sekadar ilusi, berharap pada sesuatu yang tidak ada wujudnya. Berbeda dengan usaha yang jelas ukuran dan targetnya. Ada masalah, dicarikan solusinya, dan masalah dapat dipecahkan, atau target bisa didapatkan. Pendek kata, mereka merasa tidak penting berdoa, cukup dengan usaha. Meremehkan apalagi mengabaikan doa bukanlah sikap seorang mukmin sejati yang meyakini adanya Allah yang mengatur segala sisi kehidupan manusia dan alam semesta. Seorang mukmin akan selalu menyertakan Allah dalam setiap usaha yang dilakukan. Segala persoal...

Doa yang Lembut

Gambar
ALLAH Mahadekat, bahkan lebih dekat dibanding urat leher kita. Dia melihat semua aktivitas kita, baik yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dia juga mendengar segala ucapan, doa dan permohonan kita yang jelas dari mulut, bahkan bila itu hanya berupa lintasan di dalam hati yang tak terucap. Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf [50]: 16) Dikisahkan, Nabi pernah menegur orang yang berdoa dengan suara keras, “Wahai manusia, tenangkan diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Tuhan yang bisu atau tidak ada. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru Maha Mendengar dan Mahadekat.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allah sendiri menegaskan, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A’raf [7]: 55) Nabi Zakariya disebutkan juga...

Salam yang Menyelamatkan

Gambar
SALAH satu akhlak mulia orang beriman dalam hubungan sosial dengan orang lain adalah menebarkan salam. Baik itu secara ucapan untuk menyapa dan mendoakan orang lain yang berpapasan atau ditemui, maupun secara perbuatan dengan menebarkan makna salam berupa kedamaian dan keselamatan dalam kehidupan. Dalam kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik dikisahkan, ath-Thufail bin Ubay bin Ka’ab pernah mendatangi Abdullah bin Umar, lalu ia pergi bersamanya ke pasar. Setiap kali keduanya pergi ke pasar, Abdullah bin Umar selalu mengucapkan salam kepada siapa pun yang ditemui, baik itu pedagang maupun orang miskin. Di hari lain, ath-Thufail kembali datang ke tempat Abdullah bin Umar, lalu ia meminta supaya ath-Thufail menemaninya ke pasar. Ath-Thufail berkata, “Apa yang akan Anda kerjakan di pasar sebenarnya? Anda tidak menjual sesuatu, tidak pula menanyakan harga sesuatu barang untuk dibeli, tidak pula berpencaharian mencari rezeki di pasar itu, juga tidak pernah duduk-duduk di pasar. Dudu...