Postingan

Fitrah Bertauhid

Gambar
TAUHID atau mengesakan dan beribadah kepada Allah, adalah dakwah pertama yang disampaikan oleh para nabi dan rasul Allah. Dakwah Nabi Nuh, misalnya, sebagaimana firman Allah, “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.’” (QS al-A’raf [7]: 59)  Tauhid menjadi dasar dari keimanan dalam hati yang merupakan fondasi utama dalam perilaku seorang Muslim. Bila fondasi ini kuat, maka ibadah-ibadah fisik akan baik. Bila fondasi ini rapuh, maka ibadah-ibadah fisik tidak akan maksimal, bahkan malah akan sering dilanggar, atau diabaikan dan dianggap tak penting. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan ibadah, fondasi tauhid ini harus diperkuat dan terus dijaga hingga akhir hayat.  Dalam hadisnya, Rasulullah mengatakan bahwa orang yang mati dalam kondisi bertauhid, maka dia masuk surga, “Sesuatu telah datang kepadaku dari Tuhanku, memberitahuku dan menyampaikan kabar gembira...

Beramal Tanpa Terlihat Orang

Gambar
ALLAH dan Rasul-Nya menyuruh kita untuk banyak beramal dengan ikhlas semata-mata demi mengharap pahala dan rida-Nya. Baik amal itu dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kedua amal ini sama-sama baik, asalkan diniatkan karena Allah. Hanya saja, amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diperlihatkan kepada orang lain, itu lebih utama daripada amal yang dilakukan secara terang-terangan, karena rentan menimbulkan riya.  Rasulullah dalam hadisnya bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, bertakwa, dan beramal (beribadah) secara sembunyi-sembunyi, yakni mereka yang apabila tidak berada di kumpulan orang-orang tidak ada yang merasa kehilangan mereka, dan apabila mereka berada di kumpulan orang-orang tidak ada seorang pun yang mengenali atau mengetahui mereka. Hati mereka adalah pelita-pelita yang menunjukkan jalan. Mereka keluar dari setiap kesulitan/musibah berat yang mereka alami.” (HR Ibnu Majah)  Pada hadis ini, Rasu...

Wajah Ceria Juga Sedekah

Gambar
KITA sejatinya tak bisa membuat senang semua orang. Pasti akan ada orang yang bahkan ketika kita berusaha membuatnya senang, dia tetap menyimpan perasaan curiga atau bersikap sinis, menganggap bahwa apa yang kita lakukan ada maunya atau seperti pepatah “ada udang di balik batu”. Padahal, membuat orang lain senang, dalam hal baik atau positif, termasuk adab atau akhlak Islam.  Dalam sejumlah hadis, misalnya, Rasulullah menyuruh kita untuk menebarkan salam, yang berarti mendoakan kebaikan, dan menebarkan senyuman ketika bertemu dengan orang lain. Bahkan, senyuman ini adalah sedekah. Beliau bersabda, “Senyummu kepada saudaramu itu adalah sedekah.” (HR at-Tirmidzi dalam  Sunan at-Tirmidzi )  Maksudnya, sekadar memperlihatkan roman muka yang menyenangkan, menggembirakan, dan membahagiakan, semua itu termasuk sedekah. Karena, sedekah tak harus bersifat materi, seperti memberikan uang atau barang. Bisa juga sedekah ...

Bukti Syukur Nikmat

Gambar
ALLAH selalu memberi manusia nikmat dan anugerah, baik itu berupa sesuatu yang tampak maupun tidak tampak, material maupun nonmaterial. Nikmat dan anugerah itu bahkan tak terhitung jumlahnya. Allah berfirman, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS an-Nahl [16]: 18) Asy-Syinqithi dalam kitab  Adhwa’ al-Bayan  menjelaskan, manusia tidak mampu menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu, Allah menyebutkan bahwa Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini menunjukkan atas kekurangan manusia dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Namun, Allah masih mengampuni siapa saja yang bertobat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat. Manusia memang sering kali lupa tak mensyukurinya. Bisa jadi karena terlalu asyik menikmatinya, tenggelam dalam kegembiraan, dan terus-menerus mencari nikmat baru tanpa pernah puas, atau bisa jadi pula karena merasa itu bukan da...

Waktu untuk Beramal

Gambar
WAKTU terus berjalan dan berubah. Hari ini tidak sama dengan kemarin. Besok juga tak akan sama dengan hari ini. Meskipun hari dan bulan sama, tapi situasinya akan berbeda. Meskipun juga setiap hari selalu ada pagi, siang, sore, malam, lalu pagi lagi, tentu saja kondisinya berbeda. Demikianlah Allah mempergulirkan waktu. Allah berfirman, “Dan, hari-hari itu pun Kami pergulirkan di antara manusia.” (QS Ali ‘Imran [3]: 140)  Berkaitan dengan perubahan waktu di kehidupan kita, ada dua hal yang mesti kita lakukan sebagai orang beriman. Pertama, melihat perubahan itu sebagai salah satu ayat atau tanda dari Allah untuk kita pikirkan dan renungkan, sehingga dari proses ini lahir ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan membawa maslahat bagi umat manusia. Allah befirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS Ali ‘Imran [3]: 190)  Imam Ibnu Katsir dalam kitab  Tafsir al-Qur...

Bencana yang Menyadarkan

Gambar
BENCANA alam sering kali datang secara tiba-tiba tanpa kita duga-duga. Padahal, Allah sudah banyak memperingatkan perihal bencana ini tidak hanya dalam ayat-ayat Alquran ( ayat quraniyah ), tetapi juga dalam ayat-ayat alam ( ayat kauniyah ). Dalam  ayat quraniyah , kita diceritakan perihal banjir besar pada zaman Nabi Nuh akibat umatnya ingkar. Juga gempa bumi yang terjadi di zaman Nabi Saleh, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib, yang disebabkan oleh umat mereka yang ingkar dan menentang kebenaran dari Allah.  Adapun dalam  ayat kauniyah , kita dapat membaca buku-buku sejarah dunia yang berisi bencana alam di masa lalu, atau kita baca dan lihat di sejumlah berita, peristiwa bencana alam tragis yang menewaskan banyak orang. Misalnya, bencana tsunami, gunung meletus, banjir bandang, dan baru-baru ini gempa bumi di negeri ini yang membuat lebih kurang ratusan orang meninggal. Untuk kita yang tidak mengalami bencana itu, tentu saja menjadi pelajaran bagi kita untuk waspada dan menya...

Istiqamah dalam Ucapan

Gambar
LISAN manusia bisa mengatakan apa pun, tentang apa pun, dan kepada siapa pun. Sayangnya, manusia acap kali gagal mengontrol lisan atau ucapannya, sehingga yang keluar adalah hal-hal negatif. Tak sedikit gara-gara lisan, terjadi cekcok dan pertengkaran antar sesama. Tak sedikit pula, dari cekcok dan pertengkaran itu berlanjut ke kontak fisik yang menimbulkan luka tak hanya fisik, tetapi juga batin, yakni munculnya dendam.  Mengingat pentingnya lisan, Rasulullah mewanti-wanti kita untuk menjaganya agar tetap berada di jalan yang lurus atau istiqamah dalam kebaikan dan hal-hal positif. Beliau bersabda dalam hadisnya, “Iman seorang hamba tidak akan istiqamah sebelum hatinya istiqamah. Dan, hati itu tidak akan istiqamah sebelum lisannya (ucapannya) istiqamah.” (HR Ahmad)  Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya,  Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam , menjelaskan, istiqamah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan, is...