Postingan

Menampilkan postingan dengan label akhlak islam

Pejabat Amanah Antikorupsi

Gambar
DALAM Islam, jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Orang yang telah diberi jabatan untuk mengurusi masalah umum atau umat harus menjauhi perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi dan menyalahgunakan jabatan dan wewenang untuk kepentingan diri dan keluarga. Ia harus mementingkan urusan umat sesuai dengan tugas yang diemban.  Dikisahkan, Rasulullah pernah memberikan tugas untuk memungut zakat kepada seseorang dari suku Azdi bernama Ibnu Luthbiyah. Beberapa waktu kemudian, setelah dengan baik menunaikan tugasnya, Ibnu Luthbiyah menemui Rasulullah, lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagian ini untuk Anda, dan bagian ini untukku.”  Melihat hal itu, wajah Rasulullah memerah karena marah. Di atas mimbar, di hadapan para sahabat, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku telah memberikan suatu tugas sesuai perintah Allah kepadaku untuk aku sampaikan kepada seseorang. Kemudian, orang itu melaksanakannya, lalu ia datang lagi kepadaku sambil m...

Giat dalam Kebaikan

Gambar
ALLAH berfirman,  “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS al-Baqarah [2]: 148)  Hidup adalah anugerah Allah yang harus disyukuri. Syukur yang tidak hanya di lisan, tetapi juga dalam perbuatan. Wujud nyata dari syukur dalam perbuatan adalah mengerahkan segala daya upaya untuk melakukan kebaikan, dalam berbagai bentuknya. Kebaikan untuk diri sendiri, untuk orang lain, dan untuk lingkungannya. Dengan demikian, bersyukur tiada lain adalah dorongan terhadap manusia untuk giat melakukan aktivitas kebaikan, dan tidak malas-malasan.  Malas dalam melakukan kebaikan merupakan sikap tercela. Orang munafik dicela salah satunya karena ketika akan mengerjakan shalat mereka malas-malasan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah. Padahal, Allahlah yang menipu mereka. Dan, apabila mereka hendak berdiri mengerjakan shalat, mereka berdiri dengan malas-malasan.” (QS an-Nisa’ [4]: 142)  Sebaliknya, giat beraktivitas...

Kemuliaan Rasa Malu

Gambar
RASULULLAH bersabda, “Jika engkau tidak punya (kehilangan) rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR al-Bukhari dari Abu Mas’ud)   Salah satu akhlak orang beriman adalah punya rasa malu. Malu dalam hal ini adalah malu untuk melakukan kemaksiatan dan keburukan, karena selain merugikan orang lain, juga merugikan diri sendiri. Termasuk malu dalam hal ini juga adalah malu untuk tidak banyak melakukan amal saleh, padahal ada kesempatan untuk melakukannya. Jadi, malu dalam hal ini adalah malu yang positif, malu yang membangun dan meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah.   Rasa malu ini didasari oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya di mana pun ia berada. Rasa malu terhadap-Nya inilah yang diteladankan oleh Nabi Yusuf ketika digoda oleh istri al-Aziz, seorang pembesar Mesir, yang dalam riwayat bernama Zulaikha. Perempuan ini sangat menyukai Yusuf karena ketampanannya. Namun, wajah tampan yang dimiliki Yusuf tak sontak membuatnya memanfaatkannya untuk melakukan perbuatan m...

Persaudaraan Menjauhkan Perpecahan

Gambar
“SESUNGGUHNYA orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS al-Hujurat [49]: 10)   Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, mereka merasa menjadi tamu di negeri orang. Hal itu sedikit banyak membuat mereka merasa tidak enak. Akan tetapi, kaum Anshar tidak menganggap mereka sebagai tamu. Justru, mereka menganggap sebagai saudara seiman dan seagama. Rasulullah kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Di antara yang dipersaudarakan itu adalah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’. Dalam kitab  Sunan at-Tirmidzi  karya Imam at-Tirmidzi dikisahkan bahwasanya Sa’ad menawarkan pada Abdurrahman, “Apakah engkau mau jika aku membagi harta yang aku miliki sekarang menjadi dua bagian; sebagian untukku dan sebagiannya lagi untukmu? Aku juga punya dua orang istri, apakah engkau mau jika aku mentalak salah seorang dari mereka, kemudian setelah masa idahnya selesai en...

Fitrah Bertauhid

Gambar
TAUHID atau mengesakan dan beribadah kepada Allah, adalah dakwah pertama yang disampaikan oleh para nabi dan rasul Allah. Dakwah Nabi Nuh, misalnya, sebagaimana firman Allah, “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.’” (QS al-A’raf [7]: 59)  Tauhid menjadi dasar dari keimanan dalam hati yang merupakan fondasi utama dalam perilaku seorang Muslim. Bila fondasi ini kuat, maka ibadah-ibadah fisik akan baik. Bila fondasi ini rapuh, maka ibadah-ibadah fisik tidak akan maksimal, bahkan malah akan sering dilanggar, atau diabaikan dan dianggap tak penting. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan ibadah, fondasi tauhid ini harus diperkuat dan terus dijaga hingga akhir hayat.  Dalam hadisnya, Rasulullah mengatakan bahwa orang yang mati dalam kondisi bertauhid, maka dia masuk surga, “Sesuatu telah datang kepadaku dari Tuhanku, memberitahuku dan menyampaikan kabar gembira...

Istiqamah dalam Ucapan

Gambar
LISAN manusia bisa mengatakan apa pun, tentang apa pun, dan kepada siapa pun. Sayangnya, manusia acap kali gagal mengontrol lisan atau ucapannya, sehingga yang keluar adalah hal-hal negatif. Tak sedikit gara-gara lisan, terjadi cekcok dan pertengkaran antar sesama. Tak sedikit pula, dari cekcok dan pertengkaran itu berlanjut ke kontak fisik yang menimbulkan luka tak hanya fisik, tetapi juga batin, yakni munculnya dendam.  Mengingat pentingnya lisan, Rasulullah mewanti-wanti kita untuk menjaganya agar tetap berada di jalan yang lurus atau istiqamah dalam kebaikan dan hal-hal positif. Beliau bersabda dalam hadisnya, “Iman seorang hamba tidak akan istiqamah sebelum hatinya istiqamah. Dan, hati itu tidak akan istiqamah sebelum lisannya (ucapannya) istiqamah.” (HR Ahmad)  Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya,  Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam , menjelaskan, istiqamah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan, is...

Baik terhadap Tetangga

Gambar
MANUSIA adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Selain keluarga, orang yang paling dekat adalah tetangga. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab  Fath al-Bari  yang merupakan syarah dari kitab  Shahih al-Bukhari , menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tetangga. Ada yang berpendapat 40 rumah dari setiap sisi. Ada yang berpendapat 40 rumah di sekitar kita. Ada pula yang berpendapat 10 rumah dari setiap sisi.  Dalam hidup bertetangga, Nabi memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak berbuat jahat kepada tetangga. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah kepada tetangganya.” (HR Ibnu Majah). Dalam hadis lain, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR al-Bukhari)  Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab  Taisir al-Karim ar-Rahman  menjelaskan, tetangga yang lebih dekat tempatnya, maka lebih besar haknya. Mak...

Sedekah Penambah Rezeki

Gambar
MANUSIA sering kali menganggap harta yang diberikan kepada orang lain sebagai sedekah atau amal sosial akan mengurangi hartanya. Secara matematis, bisa jadi benar. Sesuatu yang dikurangi akan menjadi sedikit. Namun, sedekah bukan soal matematis, karena ia bukan tentang angka-angka. Rasulullah mengatakan , “ Harta tidak akan berkurang karena disedekahkan. ” (HR Muslim) Jaminan tak berkurang ini langsung oleh Allah . Dia menegaskan bahwasanya harta yang disedekahkan oleh seseorang dengan tulus ikhlas semata-mata karena mengharap pahala -Nya tidak akan berkurang, meskipun secara kasat mata atau tampak berkurang. Pada hadis di atas Rasulullah memastikan jaminan Allah tersebut. Beliau menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang sedikit pun karena disedekahkan.  Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam kitab  Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram , menjelaskan, ada tiga makna harta tidak berkurang karena sedekah; pertama, Allah menumbuhkan atau mengembangkan, membersihkan ata...